TANGERANG SELATAN; Tangeranghits — Program sterilisasi hewan gratis di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus berjalan sejak 2018. Program yang dijalankan Pemerintah Kota Tangsel melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di bawah Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di bawah Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Tangsel, Pipit Surya Yuniar, mengatakan pihaknya menyediakan kuota sekitar 10 hingga 15 ekor hewan setiap bulan.
“Dari setiap bulan itu antara 10 sampai 15 ekor. Dari Januari sekitar 80-an kalau tidak salah,” ujar Pipit, saat dikonfirmasi TangerangHits, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurutnya, pendaftaran sterilisasi dibuka secara online pada awal setiap bulan. Setelah kuota terpenuhi, petugas memanggil peserta secara bertahap untuk menjalani tindakan sterilisasi.
“Kalau yang terdaftar sudah 15 orang, nanti kita panggil setiap hari Kamis lima orang,” terangnya.
Pipit mengungkapkan, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut masih sangat tinggi. Bahkan, kuota yang dibuka secara daring dapat habis dalam waktu singkat.
“Bukanya online, jadi tidak sampai semenit sudah habis. Antusiasnya seperti war,” ungkapnya.
Pipit menjelaskan program sterilisasi gratis tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan populasi hewan sekaligus mendukung pencegahan rabies. Selain vaksinasi, pengendalian populasi menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan hewan dan lingkungan.
“Program steril gratis itu dalam rangka pemerintah untuk menjamin bebas rabies. Salah satunya melalui vaksinasi dan pengendalian populasi,” jelasnya.
Selain mengendalikan populasi, sterilisasi juga memberikan manfaat terhadap kesehatan dan perilaku hewan, khususnya kucing. Hewan yang telah disteril cenderung lebih tenang, tidak terlalu sering berkelahi, serta mengalami penurunan perilaku spraying pada kucing jantan.
Sterilisasi juga dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit melalui aktivitas perkawinan maupun kontak langsung antar kucing.
Puskeswan Tangsel memprioritaskan program gratis tersebut bagi kucing stray atau kucing yang hidup di lingkungan masyarakat. Sementara kucing ras yang memiliki pemilik diarahkan untuk memanfaatkan layanan swasta atau kegiatan sterilisasi bersubsidi lainnya.
“Karena gratis, kita akomodir kucing-kucing stray, lebih ke kucing lingkungan. Bukan untuk membedakan, tetapi kalau kucing ras biasanya dipelihara dan pemiliknya bisa mengakses layanan lain,” tuturnya.
Untuk usia, Puskeswan menetapkan minimal sekitar sembilan bulan bagi hewan yang akan menjalani sterilisasi. Khusus kucing betina, pihaknya merekomendasikan agar sudah pernah melahirkan.
Saat ini, program sterilisasi gratis tersebut belum mencakup anjing. Puskeswan masih memfokuskan layanan pada kucing.
Selain sterilisasi, Pipit menjelaskan Puskeswan juga menjalankan layanan vaksinasi hewan setiap hari. Masyarakat dapat melakukan pendaftaran secara daring melalui kanal informasi yang disediakan Puskeswan.
Meski antusiasme masyarakat terus meningkat, Pipit menyebut, keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program. Saat ini, dokter yang menangani tindakan operasi terbatas dan harus bergantian dengan pelayanan lainnya.
Karena itu, lanjut Pipit, Puskeswan tidak sembarangan menambah kuota sterilisasi. Pihaknya memilih menjaga jumlah peserta agar dokter tetap dapat memberikan pelayanan secara optimal tanpa mengganggu layanan kesehatan hewan lainnya.
“Kalau event, kita bisa melayani 30 sampai 40 ekor dalam satu hari. Tetapi besoknya kita harus kembali memberikan pelayanan pengobatan biasa. Jadi jumlah itu memang kita jaga sesuai kemampuan dokter agar pelayanan tetap optimal,” pungkasnya.(*)







