TANGERANG SELATAN; Tangeranghits.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendorong penguatan Program Adiwiyata dengan menargetkan hampir 200 sekolah menerapkan budaya peduli lingkungan. Program tersebut dinilai penting untuk membentuk kebiasaan menjaga lingkungan sejak usia dini.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, Sekolah Adiwiyata merupakan satuan pendidikan yang menerapkan berbagai program pelestarian lingkungan dengan melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru hingga tenaga kependidikan.
“Sekolah Adiwiyata itu merupakan sekolah yang sudah menerapkan program pelestarian lingkungan di sekolahnya masing-masing,” kata Pilar usai membuka Sosialisasi Program Adiwiyata di Gedung Galeri Koperasi UMKM, Lengkong Gudang, Serpong, Rabu 7 Oktober 2026.
Menurut Pilar, penerapan Adiwiyata dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana, seperti penanaman pohon, pemilahan sampah, serta pengolahan sampah organik dan anorganik.
Sekolah juga dapat mengembangkan kegiatan bercocok tanam, perikanan hingga peternakan mini. Selain memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut dinilai dapat mendukung ketahanan pangan.
Pilar menyebut sejumlah sekolah di Tangsel telah berhasil menerapkan Program Adiwiyata dan menjadi contoh hingga tingkat nasional. Untuk tahun ini, pemerintah daerah menargetkan penambahan sekitar 70 sekolah yang mengikuti program tersebut.
“Harusnya hampir 200 di Tangerang Selatan, targetnya tahun ini yang bisa menjadi sekolah Adiwiyata seperti ini,” ujarnya.
Kebiasaan Harus Dibentuk Sejak Dini
Pilar menegaskan, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk teori. Kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten sejak anak-anak.
Menurutnya, jenjang pendidikan dasar menjadi salah satu momentum penting untuk menanamkan perilaku tersebut.
“Kebiasaan mencintai lingkungan hidup, menjaga alam dan seisinya itu harus disosialisasikan, harus diajarkan, diterapkan dari mulai usia-usia dini,” tegas Pilar.
Ia mencontohkan persoalan sampah yang masih kerap ditemukan setelah kegiatan dengan jumlah peserta besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesadaran sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih perlu diperkuat.
“Kalau kita lihat, kemarin saya bubaran dari stadion saja, sampah masih ada. Berarti masih ada orang yang nggak aware masalah lingkungan,” katanya.
Karena itu, Pilar mendorong edukasi lingkungan tidak hanya menyasar orang dewasa dan orang tua, tetapi juga anak-anak. Menurutnya, setiap individu harus memahami bahwa sampah yang dihasilkan merupakan tanggung jawab masing-masing.
“Supaya membiasakan itu sejak usia dini, bahwa sampahmu adalah tanggung jawabmu,” ujarnya.
Tak Harus Mahal
Pilar menilai penerapan Program Adiwiyata tidak harus membutuhkan anggaran besar. Sekolah dapat mengandalkan kreativitas dengan memanfaatkan barang bekas maupun sumber daya yang tersedia di lingkungan sekolah.
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, botol kaca dan kertas dapat dipilah untuk dimanfaatkan kembali atau memiliki nilai ekonomi.
“Sebetulnya tidak menggunakan biaya besar. Itu pintar-pintar daripada sekolah,” kata Pilar.
Ia menilai keterlibatan siswa menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Salah satu bentuknya dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana seperti menanam dan merawat tanaman.
“Merawat tanaman itu, mulai dari bibit sampai tumbuh, dirawat, dipupuk, disiram. Itu sebenarnya hal yang kecil yang bisa dilakukan semua orang,” tuturnya.
Pilar berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa dan menjadi bagian dari budaya masyarakat dalam menjaga lingkungan.
DLH Perkuat Kolaborasi
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel Bani Khosyatullah menegaskan pentingnya kolaborasi dan koordinasi seluruh pihak dalam menjalankan Program Adiwiyata.
“Tentunya kami sangat berharap kolaborasi, kemudian di antara kita koordinasi, dalam rangka melaksanakan program tersebut semakin ditingkatkan,” kata Bani.
Bani menekankan, Program Adiwiyata tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian penghargaan atau prestasi sekolah. Lebih dari itu, program tersebut harus mampu membangun budaya dan perilaku peduli lingkungan yang bertahan dalam jangka panjang.
“Salah satunya adalah dengan Adiwiyata ini, bagaimana kita dari mulai TK, SD sudah kita edukasi. Dan bukan cuma edukasi yang diharapkan, tapi bagaimana budaya dan perilaku,” ujarnya.
Menurut Bani, DLH memiliki tanggung jawab dalam menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan yang asri, baik di kawasan permukiman, perkantoran maupun sekolah.
Ia berharap edukasi yang dimulai dari bangku sekolah dapat membentuk individu yang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
“Goals-nya bukan bagaimana kita mendapat prestasi di Adiwiyata. Tapi bagaimana lingkungan kita tetap terjaga dengan cara salah satunya memberikan edukasi kepada individu, kepada insan sejak mulai dari bangku sekolah,” pungkasnya.(Jod)







